Kejahatan maya di dunia nyata…

Posted January 16, 2011 by codotungu
Categories: essayz


Stasiun televisi berita warna merah sedang menyiarkan sinetron berita tentang “penculikan di dunia maya”.. what? Saya tak mempermasalahkan kesalahan gramatikal frase si mbak reporternya. Pemaparan yang terlalu lebay, begitu mengantagoniskan si tukang warnet dengan segala pernak-pernik komputernya, pun saya anggap lazim dilakukan media massa elektronik.

Dunia maya itu mengandung misteri yang menyedot para korban yang tak waspada.. ke lubang kesialan. Begitulah “moral cerita” sinetron berita barusan. Dan saya tak menyanggah bahwa kasus seperti yang dipaparkan di sinetron itu bisa terjadi.

Tapi yang tak ditonjolkan di narasi atau caption-nya: kejadian perkara penculikan cewek-cewek itu bertempat di dunia nyata! Mereka dibunuh dan sebagainya di rumah si penjahat, bukan di Facebook atau Y!M. Penjahat memanfaatkan internet untuk mempengaruhi pikiran para korban, sehingga mereka masuk perangkap yang dipasang. Korban yang sedang mengalami krisis batin, krisis moral, dan sebagainya –apalagi yang tak punya pemahaman yang baik tentang “ruang curhat”-nya– lebih gampang kena jebakan.

Contohnya cerita berikut ini….

Seorang teman baru saya, sebut saja namanya Yenni, baru sekali itu naik KRL jurusan Bekasi. Sendirian. Selang beberapa menit, dia mendapat tempat duduk persis di sebelah seorang cowok berpakaian rapi (hem warna krem lengan panjang dimasukin ke celana, sepatu pantofel pletok.) Sebagai pendatang yang baru sebulan datang dari Semarang, dia bingung mengira-ngira letak stasiun di mana dia mesti turun. Tatapan panik dan gerak tubuh clingak-clinguk Yenni tertangkap mata si mas di sebelah.

“Mau turun di mana, Mbak?” tanya si cowok dengan mimik sopan.

“Cakung, masih jauh ndak?”

“Dua stasiun lagi. Tenang aja, nanti saya beritahu kalau sudah hampir sampai. Mbak baru dari daerah ya?” kata si mas sambil membetulkan kerah bajunya.

“Iya, bingung nih. Mana saya kan harusnya sudah sampai di lokasi lima menit lalu….”

“Ahahah, selamat datang di Jakarta, Mbak! Tenang aja mereka pasti maklum… urusan kerjaan ya?” si cowok ketawa. Rambut kelimisnya yang bergaya mohak tampak mengilap diterpa sinar matahari dari balik jendela… (di cerita ini, ketawa “ahahah” dan bukan “hahaha” saya gunakan untuk menandai seorang antagonis –Red.)

Lalu Yenni pun menerangkan secara ringkas seluk beluk pekerjaannya. Lalu mereka ngobrol santai biasa saja, soal pemanasan global, cuaca ekstrem, harga cabe, dan sebagainya. Lalu… bertukar nomor henpon!

Besoknya, si Yenni dengan berbinar-binar menceritakan tentang perkenalan itu. “Orangnya kalem banget, Mas. Mana dia bisa nebak tentang latar belakang keluargaku. Pinter kayaknya. Pengertian banget. Dia bahkan bisa tahu kalau ibuku bidan. Kenapa aku jadi deg-degan gini ya? Mana cowokku lagi ngejauh lagi….” Saya cuma nyengir kuda. Dasar abege labil!

Besoknya lagi, si Yenni bercerita bahwa itu cowok mengajaknya ketemuan si sebuah mal di Jalan Casablanca.

“Gimana nih, Mas? Enaknya datang gak ya?”

“Mbuh,” jawab saya.

“Lha, cuma ketemuan aja. Aku kan juga ada urusan, mau beli sarung bantal panjaaang… Dia ngajak-ngajak terus nih, sekalian nungguin klien di situ katanya,” dia setengah merajuk. Saya –bukannya sombong– mencium gelagat gak bagus di situ. Tapi saya tak mau dibilang sok curiga dan ada maunya dengan Yenni, hahaha… (perhatikan ketawanya –Red.)

“Dia orang apaan sih?” saya bertanya. Yenni bercerita tentang kota asal cowok itu, juga perguruan tinggi ngetop tempat cowok itu belajar, dan berbagai “nilai plus” yang berhasil dia gali dari percakapan telepon dan SMS dengan oknum itu.

“Menurutku mendingan jangan sendirian. Ajak si Ita deh,” kata saya, menyebut  teman karibnya yang sudah bertahun-tahun tinggal di Ibu Kota. Yenni mengangguk sambil memencet-mencet jerawatnya.

Selang dua-tiga hari, tak sengaja saya bertemu dengan Ita di sebuah warung makan. “Lho, tumben sendirian. Yenni mana?”

“Dia lagi kencan, Mas, ama cowok yang ketemu di kereta itu. Ini lagi SMS,” kata Ita, bersungut-sungut. Saya cuma nyengir.

Tiba-tiba, selagi membaca SMS, Ita menjerit kecil. Lalu dia menelepon, “Astaghfirullah, Yenni… sekarang ada di mana? Bisa ke sini kan? Naik taksi aja, tar ongkosnya biar gue yang bayarin….” Saya cuma menebak-nebak apa yang sedang terjadi.

Setengah jam kemudian, muncul si Yenni dengan wajah lusuh.

Sambil tersengal-sengal, Yenni menceritakan tentang kejadian memalukan yang baru dia alami. Harta benda berupa henpon, laptop, dan pernak-pernik cewek di tas gembloknya lenyap, bersamaan dengan menghilangnya si cowok gebetan dari depan pintu toilet pusat perbelanjaan itu. Yang tersisa, henpon CDMA yang kebetulan dia simpan di saku celananya. Dia mencoba menelepon ke nomor cowok itu, tapi tak aktif. Sia-sia pula dia menelepon ke nomor henponnya sendiri yang terbawa di tas gemblok itu.

Rasa malu membuatnya sama sekali tak mau melaporkan kejadian itu ke polisi. “Mas, gimana ini. Gimana juga kalau cowok saya tahu…,” kata Yenni sambil sesenggukan.

“Begini saja, cukup kita aja yang tahu kejadian ini. Jadi ceritanya, kamu lagi berdiri memilih-milih baju di pinggir jalan dekat Tanah Abang, tiba-tiba tas diembat orang berboncengan motor…. kejadian yang singkat dalam beberapa detik,” saya mengusulkan sebuah cerita yang lebih tidak memalukan.

Besoknya saya menelepon si Oki, teman saya yang kebetulan alumni sekolah tinggi tempat cowok itu konon pernah belajar, untuk melacak keberadaannya. Hasil penelitiannya: tidak pernah ada nama cowok itu di daftar alumni angkatan mana pun!

Nah, sekarang coba analogikan gerbong KRL itu dengan Facebook atau Yahoo! Messenger. Kejadiannya bisa mirip-mirip bukan?

Disclaimer:
Semua detail peristiwa ada di dunia nyata, tapi kemiripan nama personal dan nama tempat cuma kebetulan belaka.

sajak infotainment (1)

Posted December 15, 2010 by codotungu
Categories: Uncategorized


dan kau pun mulai berargumen
bahwa ukuran payudara itu berbanding terbalik dengan volume otak
demi sebuah kebanggaan tentang betapa bodohnya dirimu

Untuk yang lagi pacaran… (1)

Posted October 17, 2010 by codotungu
Categories: essayz


Buat Anda yang ingin menjalin hubungan lebih mesra dengan pasangan Anda (pacar, suami/istri, selingkuhan, dsb), berikut adalah salah satu tips dari saya yang tercetus beberapa menit lalu: Buatlah pernak-pernik sederhana yang berasal dari salah satu bagian tubuh pasangan Anda…

What??

Bukan, saya nggak sesadis itu lagi sekarang. Yang saya maksudkan adalah rambut. Idenya dari tontonan di televisi barusan.

Beberapa wanita paruh baya di Eropa sangat menyayangi binatang piaraannya: kucing mesir yang berbulu lebat. Secara berkala, kucing-kucing itu dibawa ke salon, di-grooming. Dan rambut sisa cukurannya kadang dibawa pulang oleh majikannya.

Setelah terkumpul cukup banyak, bulu2 itu dirajut menjadi berbagai pernak-pernik semacam gantungan kunci, dompet, atau bahkan tas tangan buat para cewek. Memang ada beberapa penyedia jasa pembuatan barang-barang kerajinan khas itu. Terlihat di tayangan itu, salah satu nyonya pemilik kucing sedang menenteng tas tangannya. Dia bilang: “Saya merasa selalu dekat dengannya, hanya dengan mengelus-elus tas ini.”

Nah dari situ, kebayang kan seandainya di tempat kita ada yang menyediakan servis pembuatan barang-barang kerajinan dari rambut.

Seorang cowok yang mengantarkan pacarnya (yang  ingin berambut cepak) ke salon, misalnya, bisa meminta kapster menyisihkan potongan rambut kekasihnya. Rambut tadi dibawa ke perajin aparel, jadi gantungan kunci kontak motornya.

Lalu, suatu ketika, itu cowok terlihat duduk melamun sambil menimang-nimang kunci kontaknya. Temannya menegur: “Ngapain Bro, bengong aje kek orang setres!”Jawab si cowok itu: “Oon lu, gak tahu apa gua kan lagi membelai-belai rambut pacar gue…” Romantis sekali kan.

Demikian juga sebaliknya. Misalkan, seorang cewek tiba-tiba memutuskan untuk menikahi pacarnya yang gondrong, berambut gimbal model rasta. Salah satu syarat yang diajukan orangtua si cewek: pacarnya mesti memotong rambutnya biar keliatan rada rapi nanti pas resepsi. Mereka menuruti titah itu. Si cewek dengan setia menemani pacarnya ke barbershop. Dan diam-diam potongan rambut cowoknya itu pun dia simpan, lalu besoknya dibawa ke perajin keset di kampung sebelah.

Suatu kali cowoknya menelepon dari luar kota: “Maaf ya diajeng, aku terpaksa extend soale proyeknya (bikin patung telur bebek raksasa buat monumen sebuah kota di Jawa Tengah –Red.) belum kelar. Sudah kangen ya? Jangan ngambek terus bunuh diri lho, tar masuk tipi lagi.”

Jawab: “Walah, yowes. Dirampungkan aja dulu pekerjaannya. Gak papa kok aku. Kalau masnya nggak bisa ke sini, aku kan tinggal buka pintu kamar kosku… serasa Mas terus ada di situ, setiap hari setia menungguiku di depan pintu…” Dan cowoknya pun manggut-manggut, terharu.

Itu baru sekelumit contoh. Pasti bakal banyak varian kisah romantis yang muncul, seandainya banyak orang yang melaksanakan ide ini… :D :D :D

————-
Notes:
Untuk tips ini, dibutuhkan pacar/pasangan yang nggak berwujud cewek berambut sangat cepak atau cowok yang botak!

Deskripsi, deskripsi, deskripsi….

Posted October 12, 2010 by codotungu
Categories: jalan-jalan..


Saya tak kebagian seat. Dan berdiri dengan memunggungi deretan penumpang yang duduk adalah posisi favorit saya. Sepertinya tak begitu sopan, tak lazimlah (itu saya tangkap dari senyuman si mbak baju merah yang duduk di seberang sana). Tapi saya suka, karena dengan begitu saya bisa menangkap suasana sekeliling. Memperhatikan aneka ekspresi wajah penumpang yang ada di situ.

Pertimbangan lainnya, posisi berdiri seperti itu membuat kita lebih aman dari incaran copet. Mereka, para copet, lebih suka penumpang yang memunggungi “jalanan”, melamun sambil melihat pemandangan di balik jendela, bergelayutan di handle tanpa memperhatikan orang yang lalu lalang di belakangnya.

Memang, mereka lebih menyukai penumpang yang kurang waspada di tengah area yang sedikit chaotic. Karena itu pula, wilayah paling rawan di gerbong KRL (mau yang ekonomi biasa ataupun ber-AC seperti yang saya sedang tumpangi ini) adalah di dekat pintu tempat keluar masuk penumpang. Ini beneran… saya pernah mendiskuskannya dengan seorang mantan jambret.

By the way, dengan cara berdiri seperti saya, memang ribet jika hendak bergelayut di handle. Tapi saya memang jarang berpegangan di situ. Kaki saya masih cukup kuat menahan keseimbangan berdiri pas kereta melaju.

Saya perhatikan wajah-wajah segar di sekeliling. Beberapa terlihat ngobrol sambil sesekali tertawa cekikikan dengan temannya. Beberapa asik dengan henponnya. Saya hitung paling nggak ada lima orang yang menggunakan Blackberry. Ada yang dari tadi cengar-cengir sendirian memandangi henponnya, mungkin lagi chatting dengan pacar atau selingkuhannya… Mungkin begitu, gak nuduh kok cuma curiga aje, he, he, he….

Yah memang, di zaman sekarang, kalian pasti juga sering melihat tipikal makhluk “gegar teknologi” seperti itu di mana-mana. Atau jangan-jangan ada di antara kalian yang style-nya seperti itu: di tengah keramaian dunia nyata yang memikat, perhatian justru fokus pada realita virtual di layar sempit gadget canggih yang beberapa bulan mendatang bakal jadi benda kuno.

Contoh yang parah adalah mas-mas berjaket hitam yang berdiri di sebelah saya ini. Sedari tadi dia sibuk dengan ponsel pintarnya. Posisi kepalanya menunduk terus, seakan dia hendak memamerkan rambutnya yang membotak kepada segenap tetamu gerbong. Dan sambil dia memencet-mencet Blackberry-nya, telinganya pun disumpal dengan earphone yang menjuntai dari henpon itu juga.

Seandainya kepalanya digambarkan sebagai CPU komputer, maka alat yang sedang dia pegangi itu adalah external harddisk yang memorinya jauh lebih gede daripada isi kepalanya (lebay-mode is always ON). Coba bayangkan apa yang terjadi kalau tiba-tiba ada yang iseng mencabut henpon itu dari genggaman tangannya! Gak kebayangkan kan gimana ekspresi wajahnya? :D

Lalu mata saya menyapu ke pemandangan di sebelah sana. Dua penumpang, sepertinya pasangan suami-istri, duduk sambil memegangi benda-benda berupa beberapa bungkusan plastik dan… kurungan hamster. Mungkin mereka baru membeli kurungan berikut dua penghuninya itu di daerah Kota. Mereka tampak serius sedang membahas barang-barang belanjaannya itu. Si bapak meminta istrinya menutup kurungan tikusnya dengan kantong plastik. Istrinya menurut, dan sekarang terlihat matanya terpejam.

Lalu hening. Percakapan terdengar di sekeliling, tawa kecil, kadang teriakan. Tapi saya merasakan suasana senyap. Beberapa stasiun terlewat dari perhatian saya. Saya melamun? Nge-blank?

Enggak juga. Sempat saya lihat, dua cewek berkerudung itu bercakap-cakap seru sambil sesekali mencuri-curi pandang ke arah saya, yang pura-pura serius mengamati tulisan Jepang kecil yang tertera di handle (dan saya bisa menebak mereka satu rombongan dengan beberapa penumpang yang duduk di belakang saya). Saya juga masih sempat menyaksikan sedikit kegaduhan barusan, ketika serombongan laron masuk dari salah satu peron stasiun. Benar-benar laron, yang terpikat oleh benderang lampu neon di dalam gerbong.

Tapi saya tak ingat kenapa posisi berdiri saya sudah bergeser beberapa langkah ke dekat pintu.

***

Kereta mulai masuk kota Bogor. Si ibu hamster masih tertidur. Suaminya melamun. Dan kantong plastik di dekat kakinya.. astaga, terlihat kepala mahluk kecil menyembul dari kantong plastik di dekat kakinya itu!

Dia (maksudnya tikus putih –Red.) clingak-clinguk dengan tatapan takjub. Saya juga sedikit takjub dengan pemandangan itu. Beberapa detik saya habiskan untuk mengamati orang-orang di sekeliling dia, dan rupanya tak ada yang memperhatikan. Ketika mahluk kecil itu mulai beringsut ke luar, saya ambil tiga-empat langkah ke depan, lalu: “Pak, tikusnya mau kabur nih!”

Dengan sigap si bapak menangkapnya, lalu memasukkan kembali binatang pengerat itu ke dalam kantong kresek. Seketika itu juga, suasana kembali riuh. Si cewek berkerudung terbelalak sambil membekap mulut dengan kedua tangannya. Si mas Blackberry tersenyum dan bilang: “Saya kira itu tadi burung lho!” Dan si bapak hamster tersenyum simpul, sedikit mengangguk dengan tatapan terima kasih kepada arah saya.

Saya sendiri menebak-nebak: selain dua hamster yang dikurung di pangkuan si ibu dan satu lagi yang nongol tadi, ada berapa ekor lagi yang ada di dalam kantong plastik itu? Kira-kira mau diapain binatang pengerat sebanyak itu? Bagaimana seandainya itu tadi bukan hamster, melainkan tikus got segede anak kucing, lalu tikus got segede anak kucing itu jadi lepas, kabur ke ruang masinis, lalu si masinis menjerit kaget dan nggak sengaja menarik pedal gas tanpa memperhatikan sinyal di “semboyan 35″, dan kebetulan di depan sana ada rangkaian kereta lain yang lagi berhenti….

Daripada cengar-cengir sendirian, saya diam-diam pindah ke gerbong depan.

bangkitlah suketi… ehh, kartini…

Posted April 12, 2010 by codotungu
Categories: essayz

Tags:

Sebut saja namanya  Icha Pedeh (bukan nama sebenarnya –Red.), 29 tahun. Tipikal cewek zaman sekarang yang berdandan dengan sangat modis dari ujung kepala sampai ujung jempol kaki, yang pakaian dalamnya aja berkelas di atas 500 ribu sepotong. Kok saya bisa tahu! Ah, cuma kebetulan aja kenal, hehe… Segala aksesori penunjang aktivitas kesehariannya pun, termasuk mobil, tergolong gak murah-murah amat.

Di masa remajanya, kualitas fisik Mbak Icha ini termasuk tinggi. Modal alamiah berupa tampang dan bodi yang indah membawanya jadi seorang model, yang satu-dua kali memicu misjudgement yang biasa terjadi di tengah-tengah masyarakat yang penilaiannya soal gender masih tergolong muna seperti kita. Dan sekarang pun, setiap melihat aktivitas dan gayanya yang terlihat high-class, beberapa orang masih saja berkomentar: “Ah, palingan juga….”

Ada benarnyakah itu? Saya bilang tidak. Atau terserah kalian yang menggunakan imajinasi masing-masing. Tapi feeling saya menyatakan: si Icha ini bukan salah satu produk penyakit bangsa yang banyak bertebaran di sekitar kita.

Dia juga bukan jenis cewek cantik yang biasa kita lihat sedang marah-marah kepada mantan suami siri bla-bla-bla di tayangan berita pergunjingan (infotainment) di televisi, atau menjadi subjek obrolan krisis identitas para pria hidung belang separo baya di kafe-kafe Ibu Kota. Bukan, sama sekali bukan.

Bisa jadi, dia di antara sedikit cewek yang selamat dari godaan rupa di masa remaja. Kasih sayang dan kebajikan yang ditanamkan orangtuanya dari masa kecil telah menyelamatkan dia. Tanpa banyak dilihat orang yang silau oleh penampilan fisiknya, dia pun tumbuh dengan seperangkat tata nilai dan nalar yang kuat. Modal “alamiah”-nya justru memberinya jalan ke pergaulan yang lebih bermanfaat. Dan beberapa kali saya lihat, fragmen-fragmen mimpi yang dia visualisasikan menjadi kenyataan.

Lantas, apa hubungannya dengan Ibu Kartini? Ada. Ada kemiripan yang tak terdefiniskan di antara keduanya. Paling enggak, dua-duanya adalah cewek.

Kartini tumbuh dengan status kebangsawanan tinggi dan –bisa jadi– penampilan fisik yang menarik. Dan, sebagaimana pernah saya bilang, dia punya akses ke informasi berupa korespondensi dengan sahabatnya di Negeri Belanda. Pada masanya, belum ada e-mail, facebook atau blekberi, jadi sumber informasi yang paling canggih, ya, surat-menyurat itu. (Fatwa basi: di zaman modern ini, para pemenang sejati adalah mereka yang menguasai informasi.)

Tapi poin yang penting adalah bahwa dia tidak tenggelam oleh kebangsawanannya. Dia justru memanfaatkan itu sebagai modal untuk memberikan nilai lebih kepada orang-orang sekitar, untuk mengangkat derajat dan memberdayakan kaumnya.

Dia pun tak memberontak dari kodrat femininnya, terbukti dari isi surat-menyuratnya yang sering bersubjek tukar-menukar resep makanan. Juga ketaatannya pada tata nilai lembaga perkawinan masa itu. Dia, misalnya, tak berusaha memberontak tatkala disuruh menikah dengan seorang bupati wilayah pemekaran, trus kabur dari rumah, jadi TKW di Taiwan dan sabagainya… hihi, kidding gan.

Nah, sekarang, buat kalian yang kebetulan juga cewek, lagi-lagi semua itu cuma soal pilihan sikap. Mau mengadopsi gaya Mbak Icha teman saya atau Ibu Kartini yang legendaris itu, be the one you aredon’t resque yourself… (nyanyi –Red.). Kalau dianggap kurang gaya, kalian boleh juga menjadi feminis garis keras ala Ratu Shima (kebetulan sedaerah dengan Kartini di Jepara cuma beda zaman), penguasa Kerajaan Kalingga yang sikap tegasnya dianggap sebagai kebengisan oleh para pencoleng bangsa.

Atau, menjadi cewek-cewek suku Amazon dalam legenda Yunani. Mereka adalah prajurit tangguh dengan kompetensi khusus di bidang panahan. Hambatan anatomis saat mereka beraksi (tali busur nyerimpet) diakali dengan mengamputasi satu payudara mereka (a mazon = tak punya payudara). Sebuah pemberontakan yang dramatis, hmm…

Met hari Kartini yakz.

Hello world!

Posted April 3, 2010 by codotungu
Categories: jalan-jalan..


Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.