Stasiun televisi berita warna merah sedang menyiarkan sinetron berita tentang “penculikan di dunia maya”.. what? Saya tak mempermasalahkan kesalahan gramatikal frase si mbak reporternya. Pemaparan yang terlalu lebay, begitu mengantagoniskan si tukang warnet dengan segala pernak-pernik komputernya, pun saya anggap lazim dilakukan media massa elektronik.
Dunia maya itu mengandung misteri yang menyedot para korban yang tak waspada.. ke lubang kesialan. Begitulah “moral cerita” sinetron berita barusan. Dan saya tak menyanggah bahwa kasus seperti yang dipaparkan di sinetron itu bisa terjadi.
Tapi yang tak ditonjolkan di narasi atau caption-nya: kejadian perkara penculikan cewek-cewek itu bertempat di dunia nyata! Mereka dibunuh dan sebagainya di rumah si penjahat, bukan di Facebook atau Y!M. Penjahat memanfaatkan internet untuk mempengaruhi pikiran para korban, sehingga mereka masuk perangkap yang dipasang. Korban yang sedang mengalami krisis batin, krisis moral, dan sebagainya –apalagi yang tak punya pemahaman yang baik tentang “ruang curhat”-nya– lebih gampang kena jebakan.
Contohnya cerita berikut ini….
Seorang teman baru saya, sebut saja namanya Yenni, baru sekali itu naik KRL jurusan Bekasi. Sendirian. Selang beberapa menit, dia mendapat tempat duduk persis di sebelah seorang cowok berpakaian rapi (hem warna krem lengan panjang dimasukin ke celana, sepatu pantofel pletok.) Sebagai pendatang yang baru sebulan datang dari Semarang, dia bingung mengira-ngira letak stasiun di mana dia mesti turun. Tatapan panik dan gerak tubuh clingak-clinguk Yenni tertangkap mata si mas di sebelah.
“Mau turun di mana, Mbak?” tanya si cowok dengan mimik sopan.
“Cakung, masih jauh ndak?”
“Dua stasiun lagi. Tenang aja, nanti saya beritahu kalau sudah hampir sampai. Mbak baru dari daerah ya?” kata si mas sambil membetulkan kerah bajunya.
“Iya, bingung nih. Mana saya kan harusnya sudah sampai di lokasi lima menit lalu….”
“Ahahah, selamat datang di Jakarta, Mbak! Tenang aja mereka pasti maklum… urusan kerjaan ya?” si cowok ketawa. Rambut kelimisnya yang bergaya mohak tampak mengilap diterpa sinar matahari dari balik jendela… (di cerita ini, ketawa “ahahah” dan bukan “hahaha” saya gunakan untuk menandai seorang antagonis –Red.)
Lalu Yenni pun menerangkan secara ringkas seluk beluk pekerjaannya. Lalu mereka ngobrol santai biasa saja, soal pemanasan global, cuaca ekstrem, harga cabe, dan sebagainya. Lalu… bertukar nomor henpon!
Besoknya, si Yenni dengan berbinar-binar menceritakan tentang perkenalan itu. “Orangnya kalem banget, Mas. Mana dia bisa nebak tentang latar belakang keluargaku. Pinter kayaknya. Pengertian banget. Dia bahkan bisa tahu kalau ibuku bidan. Kenapa aku jadi deg-degan gini ya? Mana cowokku lagi ngejauh lagi….” Saya cuma nyengir kuda. Dasar abege labil!
Besoknya lagi, si Yenni bercerita bahwa itu cowok mengajaknya ketemuan si sebuah mal di Jalan Casablanca.
“Gimana nih, Mas? Enaknya datang gak ya?”
“Mbuh,” jawab saya.
“Lha, cuma ketemuan aja. Aku kan juga ada urusan, mau beli sarung bantal panjaaang… Dia ngajak-ngajak terus nih, sekalian nungguin klien di situ katanya,” dia setengah merajuk. Saya –bukannya sombong– mencium gelagat gak bagus di situ. Tapi saya tak mau dibilang sok curiga dan ada maunya dengan Yenni, hahaha… (perhatikan ketawanya –Red.)
“Dia orang apaan sih?” saya bertanya. Yenni bercerita tentang kota asal cowok itu, juga perguruan tinggi ngetop tempat cowok itu belajar, dan berbagai “nilai plus” yang berhasil dia gali dari percakapan telepon dan SMS dengan oknum itu.
“Menurutku mendingan jangan sendirian. Ajak si Ita deh,” kata saya, menyebut teman karibnya yang sudah bertahun-tahun tinggal di Ibu Kota. Yenni mengangguk sambil memencet-mencet jerawatnya.
Selang dua-tiga hari, tak sengaja saya bertemu dengan Ita di sebuah warung makan. “Lho, tumben sendirian. Yenni mana?”
“Dia lagi kencan, Mas, ama cowok yang ketemu di kereta itu. Ini lagi SMS,” kata Ita, bersungut-sungut. Saya cuma nyengir.
Tiba-tiba, selagi membaca SMS, Ita menjerit kecil. Lalu dia menelepon, “Astaghfirullah, Yenni… sekarang ada di mana? Bisa ke sini kan? Naik taksi aja, tar ongkosnya biar gue yang bayarin….” Saya cuma menebak-nebak apa yang sedang terjadi.
Setengah jam kemudian, muncul si Yenni dengan wajah lusuh.
Sambil tersengal-sengal, Yenni menceritakan tentang kejadian memalukan yang baru dia alami. Harta benda berupa henpon, laptop, dan pernak-pernik cewek di tas gembloknya lenyap, bersamaan dengan menghilangnya si cowok gebetan dari depan pintu toilet pusat perbelanjaan itu. Yang tersisa, henpon CDMA yang kebetulan dia simpan di saku celananya. Dia mencoba menelepon ke nomor cowok itu, tapi tak aktif. Sia-sia pula dia menelepon ke nomor henponnya sendiri yang terbawa di tas gemblok itu.
Rasa malu membuatnya sama sekali tak mau melaporkan kejadian itu ke polisi. “Mas, gimana ini. Gimana juga kalau cowok saya tahu…,” kata Yenni sambil sesenggukan.
“Begini saja, cukup kita aja yang tahu kejadian ini. Jadi ceritanya, kamu lagi berdiri memilih-milih baju di pinggir jalan dekat Tanah Abang, tiba-tiba tas diembat orang berboncengan motor…. kejadian yang singkat dalam beberapa detik,” saya mengusulkan sebuah cerita yang lebih tidak memalukan.
Besoknya saya menelepon si Oki, teman saya yang kebetulan alumni sekolah tinggi tempat cowok itu konon pernah belajar, untuk melacak keberadaannya. Hasil penelitiannya: tidak pernah ada nama cowok itu di daftar alumni angkatan mana pun!
Nah, sekarang coba analogikan gerbong KRL itu dengan Facebook atau Yahoo! Messenger. Kejadiannya bisa mirip-mirip bukan?
Disclaimer:
Semua detail peristiwa ada di dunia nyata, tapi kemiripan nama personal dan nama tempat cuma kebetulan belaka.